Enam Hal agar Kultur Ramadhan Terus Membekas
Oleh: Muhammad Yusran Hadi,
Lc, MA
Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita, dan
berganti Syawal. Sebagai seorang muslim, kita patut merasa sedih dan berat hati
berpisah dengan bulan Ramadhan. Karena ia merupakan bulan keberkahan, rahmat
dan maghfirah.
Kini Ramadhan telah pergi meninggalkan kita. Lantas, bagaimana status
ibadah dan amal shalih kita pasca Ramadhan? Sejatinya pasca Ramadhan kita diharapkan
tetap istiqamah dan mampu serta terbiasa dengan melakukan berbagai aktivitas
ibadah dan amal shalih untuk hari-hari berikutnya selama sebelas bulan, baik
berupa amalan wajib maupun amalan sunnat. Karena pada bulan Ramadhan kita telah
ditraining atau dilatih secara fulltime 30 hari berturut-turut untuk melakukan
berbagai aktivitas ibadah dan amal shalih. Tujuannnya, untuk menjadi orang yang
bertaqwa sebagaimana Allah sebutkan dalam al-Quran (al-Baqarah: 183).
Sungguh Ramadhan telah memberikan pembelajaran yang banyak terhadap
kepribadian seorang muslim dalam rangka melahirkan insan yang bertakwa. Di
antaranya yaitu,
Pertama, semangat
beribadah dan beramal shalih. Ramadhan lalu mengajarkan kita untuk semangat
beribadah dan beramal shalih. Maka, pasca Ramadhan ini diharapkan kita mampu
mempertahankan ibadah dan amal shalih kita baik secara kualitas maupun
kuantistas. Ibadah dan amal shalih itu tidak hanya disyariatkan untuk bulan
Ramadhan saja, tapi sesungguhnya diperintahkan sepanjang masa selama kita hidup
di dunia yang fana ini.
Inilah tugas utama kita di dunia sebagai
makhluk Allah sesuai dengan firman-Nya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin
dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Az-Zariyat: 56).
Bahkan kita diperintahkan untuk berlomba
berbuat kebaikan setiap saat, bukan hanya pada bulan Ramadhan. Allah Subhanahu
Wata’ala berfirman;
“Maka berlomba-lombalah kamu dalam
kebaikan..” (QS:
Al-Baqarah: 148)
Kedua, menjaga
diri dari maksiat. Ramadhan lalu telah mengajarkan kepada kita bagaimana
mengendalikan diri dan hawa nafsu lewat ibadah puasa. Pada waktu berpuasa, kita
dituntut untuk menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, berkata
kotor, bertengkar, mencaci maki dan sebagainya.
Jika hal-hal yang mubah seperti makan, minum dan hubungan istri dilarang
pada waktu berpuasa, maka terlebih lagi hal-hal yang diharamkan. Maka, sudah
sepatutnya setelah Ramadhan kita mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu dan
maksiat.
Ketiga, suka
membantu dan mencintai saudara seiman
Ramadhan lalu mengajarkan kita untuk
berempati dan peduli terhadap orang fakir dan miskin lewat infak, shadaqah dan
zakat.. Begitu pula untuk saling mencintai
dan mengasihi sesama muslim. Maka, pasca
Ramadhan kita diharapkan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran
tangan kita, baik saudara kita seiman di tanah air maupun di Palestina, Suriah,
rohingya dan lainnya.
Mengenai keutamaan berinfak, Allah berfirman, “Dan apa saja
yang kamu nafkahkan (dijalan Allah), maka pahalanya itu untuk kalian sendiri…” (Al-Baqarah:
272).
Mengenai keutamaan menolong saudara seiman, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi Wassallam bersabda, “Allah menolong hamba-Nya selama ia
menolong saudaranya.” (HR. Muslim). Rasulullah Shallallahu
‘alaihi Wassallam juga bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang di
antara kamu sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya.” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Keempat,
selalu menjaga shalat berjama’ah. Ramadhan mengajarkan kita untuk selalu
menjaga shalat berjama’ah lewat shalat tarawih, witir dan qiyam lail di masjid
maupun di mushalla.
Pada saat shalat tarawih, masjid-masjid
dan mushalla-mushalla penuh dengan jama’ah selama bulan Ramadhan. Bahkan pada
awal Ramadhan jama’ah membludak. Walaupun pada akhir Ramadhan jama’ah
semakin berkurang, namun tetap lebih ramai dibandingkan dengan pada hari-hari
selain Ramadhan. Maka, diharapkan pasca Ramadhan kita terbiasa melakukan shalat
berjama’ah di masjid atau mushalla. Sejatinya semangat shalat berjama’ah ini
bisa dipertahankan dan dilanjutkan pada shalat lima waktu setelah Ramadhan.
Di antara keutamaan shalat jama’ah yaitu;
orang yang shalat berjamaah mendapatkan 27 kali lipat pahala dibandingkan
shalat sendirian (HR. Bukhari dan Muslim). Setiap langkah orang yang shalat
berjama’ah dicatat satu pahala sekaligus dihapus satu kesalahan (HR. Bukhari
dan Muslim). Dan orang yang shalat berjama’ah akan tetap di doakan oleh
para malaikat setelah shalatnya sampai shalat berikutnya selama ia masih
ditempat shalatnya (HR.Bukhari dan Muslim).
Kelima,
menjaga shalat sunnat. Ramadhan menggalakkan kepada kita untuk semangat
melakukan ibadah sunnah. Pahala amalan sunnat pada bulan Ramadhan dihitung
seperti pahala wajib dibulan selainnya (HR. Baihaqi).
Oleh karena itu, orang berlomba-lomba
melakukan amalan sunnat seperti shalat tarawih dan lainnya. Maka, pasca
Ramadhan kita diharapkan kita untuk tetap istiqamah dalam menjaga shalat-shalat
sunnat seperti rawatib, dhuha, tahiyatul masjid, setelah wudhu’, tahajjuj,
witir, shalat sunat fajar (sebelum shubuh) dan sebagainya.
Keenam, suka
membaca Al-Quran. Ramadhan telah menggalakkan kita untuk tadarus (berinteraksi)
dengan al-Quran, karena Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Tidak mengherankan bila
pada bulan Ramadhan, bacaan al-Quran menggema di mana-mana. Umat Islam dengan
semangat dan antusias bertadarus al-Quran dengan membaca, memahami,
mentadabburi, menghafal dan mmepelajarinyanya. Maka, sepeninggal Ramadhan kita
diharapkan terbiasa dengan membaca al-Quran dan berinteraksi dengannya pada
setiap saat.
Banyak sekali keutamaan orang yang
membacanya, diantaranya yaitu; Pertama: mendapatkan syafaat (pertolongan) pada
hari Kiamat (HR. Muslim). Kedua, orang yang mempelajari Al-Qura’n dan
mengajarkannya adalah orang yang terbaik. (HR. Bukhari). Ketiga, orang yang
pandai membaca Al-Qur’an dimasukkan ke dalam surga bersama para malaikat yang
suci. Sedangkan orang yang membaca terbata-bata (belum pandai), maka ia akan
diberi dua pahala. (HR. Bukhari & Muslim). Keempat, orang yang membaca dan
mendengar Al-Qur’an akan mendapatkan sakinah, rahmat, doa malaikat dan pujian
dari Allah. (HR. Muslim). Kelima, mendapat pahala yang berlipat ganda yaitu
setiap huruf yang dibaca dihitung satu pahala dan satu pahala itu dilipat
gandakankan menjadi sepuluh ganda. (HR. At-Tirmizi), dan sebagainya.
Demikianlah hendaknya kita mengisi
hari-hari pasca Ramadhan selama sebelas bulan ke depan yaitu dengan istiqamah
melakukan berbagai ibadah dan amal shalih seperti pada bulan Ramadhan. Ibadah
dan amal shalih itu tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadhan saja, namun juga
yang terpenting adalah pada hari-hari setelah Ramadhan.
Kesuksesan Ramadhan kita lalu sangat tergantung
dengan kuantitas dan kualitas ibadah kita pada hari-hari setelah Ramadhan
meninggalkan kita.
Segala ibadah dan amal shalih yang
dilakukan pada waktu Ramadhan harus membekas pada diri kita dengan semakin baik
perilaku, ibadah dan amal shalih kita. Itulah tanda kesuksesan Ramadhan kita
yaitu menjadi orang yang bertakwa. Semoga ibadah dan amal shalih kita di bulan
Ramadhan diterima Allah Subhanahu Wata’ala. Dan semoga kita termasuk kita
termasuk orang-orang yang sukses dalam Ramadhan dan mendapat gelar taqwa. Amin
ya rabbal ‘alamin..!!
Penulis adalah Ketua Majelis Intelektual
& Ulama Muda Indonesia (MIUMI) provinsi Aceh & Dosen Fakultas Syari’ah
UIN Ar-Raniry
Sumber : https://www.hidayatullah.com
Komentar
Posting Komentar